Potensi dan Prospek Pengembangan Kekerangan di Indonesia

Source
id-orig
Aug 1, 2020 Jun 4, 2026
Video preview
Share:

Seminar online ini membahas potensi, status, dan prospek pengembangan kekerangan di Indonesia, dengan fokus pada tiga komoditas utama: kerang simping (Amusium pleuronectes), tiram mutiara (Pinctada maxima), dan kima (Tridacnidae). Para narasumber dari berbagai institusi memaparkan hasil riset dan pengalaman terkait biologi, ekologi, budidaya, hingga upaya konservasi.

Kerang Simping (Amusium pleuronectes) – Biologi dan Ekologi ⏱ 0:00

  • Kerang simping (Amusium pleuronectes) memiliki banyak mata palsu dan dapat bergerak atau berpindah tempat.
  • Sifat hermafrodit simultaneous: satu individu memiliki dua kelenjar reproduksi, putih untuk jantan dan pink/oranye untuk betina.
  • Kelenjar pencernaan menempati sekitar sepertiga bagian tubuh; terdapat mantel dua lapis, ekspresi, ginjal, dan anus berbentuk U.
  • Cangkang halus bagian kiri dan kanan, dengan warna bervariasi (pink, orange, agak keunguan, merah) tergantung tempat.
  • Perubahan taksonomi terjadi dari genus Amusium menjadi Lystroamussium japonicum dan Ylistrum sumpil ti, berdasarkan analisis DNA (Menhut dkk., 2014).
  • Hanya ada satu spesies Amusium pleuronectes di Indonesia yang unik dan hanya ditemukan di Indonesia.
  • Distribusi dan Produksi Kerang Simping di Indonesia ⏱ 2:00

  • Data produksi dari sidatik 2019 menunjukkan distribusi mulai dari Aceh, Riau, Jawa Timur (tertinggi 1.200 ton/tahun), Jawa Tengah (sekitar 900 ton), Kepulauan Riau, Bangka, hingga Maluku.
  • Di Pantura Jawa Tengah, daerah penelitian meliputi Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, dan Rembang.
  • Produksi harian di Brebes bisa mencapai 4 ton per pengumpul (data tahun 2008).
  • Kapal penangkap tradisional berukuran kecil, menggunakan jaring arad (bukan spesifik untuk simping), dengan lama melaut 1-7 hari.
  • Siklus Reproduksi dan Pertumbuhan Kerang Simping ⏱ 5:00

  • Pemantauan 2 tahun menunjukkan indeks kondisi (kegenukan) berfluktuasi: rendah pada Februari, meningkat Mei, kurus Oktober-November, kemudian naik lagi.
  • Puncak pemijahan terjadi pada Februari dan sekitar September-Oktober.
  • Ukuran panjang cangkang dulu mudah ditemukan 9-10 cm, sekarang sulit (menurun).
  • Pertumbuhan alometrik negatif pada beberapa bulan, isometrik pada bulan lain (rata-rata b=2,7-3,076).
  • Pertumbuhan dipengaruhi umur, kematangan gonad, dan parameter lingkungan.
  • Kemampuan Bergerak Unik Kerang Simping ⏱ 9:00

  • Kerang simping dapat bergerak dengan mengatupkan cangkang, menghasilkan gerakan melayang (gliding), berenang, atau melompat.
  • Gerakan seperti setengah lingkaran; dapat menempuh jarak 27 m sekali kepakan (penelitian di Australia).
  • Di akuarium, mereka senang naik turun, menandakan kesehatan.
  • Habitat dan Prospek Pengembangan Kerang Simping ⏱ 12:00

  • Hidup di kedalaman 10-15 meter, substrat lunak (lumpur atau pasir berlumpur).
  • Suhu standar tropis, salinitas rendah, arus tertentu.
  • Di Brebes, area suitable hanya 5,8% dari total area penelitian (mengelompok).
  • Prospek pengembangan: sudah ada minat dari industri luar negeri (Singapura) yang menginginkan produk hidup, bukan hanya beku.
  • Penelitian budidaya: berhasil memelihara induk hingga 5 bulan dengan pakan campuran (chlorella, tetraselmis, chaetoceros) konsentrasi 30.000 sel/mL.
  • Pemijahan berhasil dengan metode kejut suhu dan hormon, menghasilkan larva hingga fase veliger (bercangkang).
  • Tiram Mutiara (Pinctada maxima) – Potensi dan Budidaya ⏱ 25:00

  • Empat jenis tiram mutiara umum: Pinctada maxima (terbaik), P. margaritifera, P. penguin, dan P. fucata.
  • Hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki distribusi Pinctada maxima.
  • Kegiatan pendederan (nursery) adalah satu-satunya yang dapat dikembangkan di masyarakat.
  • Tahapan: kultur pakan hidup, pengadaan induk, seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva.
  • Induk dipelihara di kedalaman 20-60 m, satu pocket berisi 6-8 ekor.
  • Pemijahan: alami (perubahan lingkungan) atau rekayasa (kejut suhu 5°C, ekspose udara 12 jam, bahan kimia). Hasil: 17-20 juta telur per induk.
  • Sintasan dari 14 juta telur: 5% menjadi benih.
  • Pendederan Tiram Mutiara di Masyarakat ⏱ 30:00

  • Program iptekmas (2010-2011) di Bali: membentuk kelompok nelayan untuk pendederan.
  • Keuntungan: biaya operasional rendah (tidak perlu memberi makan), hanya membersihkan biofouling 1-2 jam/minggu.
  • Estimasi: ukuran 1-2 cm dipelihara 1 bulan mencapai 1 cm (harga rendah), 7-8 bulan mencapai 5-6 cm (harga Rp2.000/cm), hingga 9-10 cm untuk penyuntikan nukleus.
  • Rakit bambu sebagai alternatif longline; biaya investasi satu unit rakit dan perlengkapan sekitar Rp39,6 juta.
  • Inovasi: penggunaan frame kubus dari gabus untuk mengurangi gesekan dan meningkatkan survival.
  • Kima (Tridacnidae) – Jenis, Distribusi, dan Monitoring ⏱ 40:00

  • Kima (Tridacnidae) adalah kerang terbesar: Tridacna gigas tercatat 137 cm panjang, 230 kg cangkang (ditemukan di Tapanuli, Sumatera Barat).
  • Indonesia memiliki 8 jenis: Tridacna gigas, T. derasa, T. squamosa, T. maxima, T. crocea, T. noae (tambahan baru), Hippopus hippopus, dan H. porcellanus.
  • Dua jenis dilindungi (PP No. 7/1999): semua, kecuali yang tidak ada di Indonesia. Permen LHK No. 106/2018 hanya melindungi H. hippopus dan H. porcellanus.
  • Monitoring oleh LIPI (2014-2019): 1.234 stasiun di 15 provinsi.
  • Metode: belt transect 70 m x 2 m (140 m²) pada kedalaman 5-8 m.
  • Kepadatan tertinggi: Sumba Timur (0,262 ind./m²), Wakatobi (0,089 ind./m²), terendah: Batam (0,02 ind./m²), Lampung (0,01 ind./m²).
  • Ancaman dan Upaya Konservasi Kima ⏱ 50:00

  • Ancaman: eksploitasi daging dan cangkang, kerusakan habitat, penangkapan berlebih oleh suku Bajo, kurangnya mata pencaharian alternatif.
  • Regulasi: PP No. 7/1999 melindungi semua jenis kima, tetapi Permen LHK No. 106/2018 hanya dua jenis. KKP mengusulkan semua jenis dilindungi.
  • Upaya konservasi: pembentukan Kima Garden oleh BPSPL (Mentawai, Rawan, Pontianak, Kendari, Denpasar), restocking benih hasil pembenihan (LIPI Maluku).
  • Kampanye media: tayangan TV yang menampilkan konsumsi kima mendapat kritik dan permohonan maaf dari stasiun TV.
  • Kesimpulan dan Ajakan Kolaborasi ⏱ 60:00

  • Periode penangkapan kerang simping masih bersifat insidental, belum menjadi tujuan utama.
  • Informasi biologi simping masih banyak yang misteri (dinamika populasi, eksploitasi tanpa batas).
  • Perlu regulasi dan grand design dari pemerintah untuk pengembangan kekerangan.
  • Usulan pembentukan konsorsium kekerangan Indonesia untuk menyatukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan industri.
  • Budidaya dan restocking sebagai kunci keberlanjutan.
  • Poin Utama

  • Kerang simping (Amusium pleuronectes) memiliki kemampuan bergerak unik (gliding/terbang) dan bersifat hermafrodit simultaneous.
  • Produksi kerang simping di Indonesia tertinggi di Jawa Timur (1.200 ton/tahun) dan Jawa Tengah (900 ton/tahun), namun data sering tercampur dengan jenis kerang lain.
  • Ukuran kerang simping di alam menurun drastis (dulu 9-10 cm, sekarang sulit ditemukan) akibat overfishing.
  • Budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) melalui pendederan di masyarakat dinilai prospektif dengan biaya rendah dan tidak mengganggu pekerjaan utama nelayan.
  • Indonesia memiliki 8 jenis kima (Tridacnidae), namun hanya 2 jenis yang dilindungi penuh berdasarkan Permen LHK No. 106/2018 (Hippopus hippopus dan H. porcellanus).
  • Hasil monitoring LIPI (2014-2019) menunjukkan kepadatan kima sangat bervariasi, dari 0,01 ind./m² (Lampung) hingga 0,262 ind./m² (Sumba Timur).
  • Eksploitasi kima masih tinggi, terutama di daerah dengan komunitas suku Bajo, karena daging dan cangkang bernilai ekonomi.
  • Diperlukan grand design pemerintah dan konsorsium multi-stakeholder untuk mengembangkan kekerangan secara berkelanjutan di Indonesia.
  • Kesimpulan

    Seminar ini menegaskan bahwa kekerangan Indonesia memiliki potensi besar, namun memerlukan riset, regulasi, dan kolaborasi antar pihak untuk mengoptimalkan budidaya dan konservasi.

    Ask AI about this video